Banana Fibre
Overview
India memproduksi lebih dari 35 juta ton pisang per tahun, lebih banyak dibandingkan negara mana pun di dunia, dan menghasilkan sekitar 51 juta ton limbah batang semu pisang (pseudostem). Saat ini, kurang dari 1% serat yang dapat diperoleh kembali dari limbah tersebut yang berhasil diekstraksi. Hal ini menjadikan serat pisang sebagai salah satu peluang serat terbesar di India yang masih belum banyak dimanfaatkan.
Karena serat pisang merupakan produk sampingan dari tanaman buah yang sudah menguntungkan, pemanfaatannya tidak membutuhkan tambahan lahan, biaya budidaya, maupun risiko agronomi tambahan. Serat ini juga menghasilkan keuntungan bersih absolut per hektare tertinggi dari sembilan jenis serat yang dianalisis, yaitu sekitar INR 459.500/ha, karena pendapatan dari serat menjadi tambahan dari pendapatan buah yang sudah ada.
Saat ini, proses pengolahan serat pisang sebagian besar masih dilakukan secara manual atau semi-mekanis, dengan produktivitas sekitar 4 kg per hari per pekerja. ICAR (Indian Council of Agricultural Research) telah mengembangkan mesin decorticator untuk mengekstraksi serat, tetapi teknologi tersebut belum digunakan secara luas.
Where the Opportunity Lies
- Merek-merek global telah membuktikan potensi kategori ini. Bananatex telah bekerja sama dengan merek seperti Balenciaga, H&M, COS, dan Dior.
- Pasar global serat pisang diperkirakan mencapai USD 1,5–2,3 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,2–4,5 miliar pada 2032, dengan pertumbuhan sekitar 7–10% CAGR. India sendiri telah memiliki sekitar 25% pangsa pasar, meskipun ekstraksi serat secara terorganisasi masih sangat minim.
- Serat pisang memiliki cerita keberlanjutan yang paling kuat dan mudah dikomunikasikan dibandingkan sembilan jenis serat lainnya. Konsep “waste-to-wealth” (mengubah limbah menjadi sumber nilai ekonomi) sudah sangat cocok untuk digunakan dalam branding maupun storytelling media.

