Eri Silk

Mengenal Sutera Eri
Sutera Eri merupakan serat alami yang berasal dari ulat Samia, yang banyak ditemukan di daratan Asia. Nama “Eri” berasal dari bahasa Assam, India, yaitu Era yang berarti “daun jarak”.
Di Indonesia, sutera Eri mulai dikembangkan pada 2016 dengan memanfaatkan daun singkong sebagai sumber pakan ulat. Pengembangan ini membawa peluang nilai tambah bagi petani singkong dan terus berlangsung secara organik serta swadaya.
Dari daun, ulat, hingga menjadi benang dan tekstil—Sutera Eri menghadirkan potensi serat lokal yang bernilai bagi masyarakat dan industri kreatif
Sejarah Awal Sutera Eri di Pasuruan
Dari pembinaan awal hingga berkembang menjadi bagian dari ekosistem serat dan industri kreatif Indonesia
Early Development
Pembinaan awal Sutera Eri di Pasuruan oleh Bapak Arief Sugiarto bersama tim, dengan pemanfaatan daun singkong sebagai sumber pakan.
First Harvest
Hasil panen pertama dikembangkan melalui proses trial and error bersama KaIND untuk menghasilkan produk selendang tenun.
First Woven Textile
Serat Sutera Eri mulai menjadi kain tenun dan ditampilkan pada acara WCCE di Bali dengan fasilitasi BEKRAF.
First Fabricated Yarn
Pengembangan benang Sutera Eri melalui proses trial and error oleh KaIND dengan komposisi 30% Sutera Eri dan 70% serat Tencel.
Innovation & Resilience
Di tengah pandemi, dikembangkan berbagai alat proses dan produk turunan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan.
Wider Exposure
Sutera Eri diperkenalkan melalui pameran AVPN Conference di Bali dan KaIND meraih Juara 1 Pengusaha Muda BRILIAN dari Bank BRI.