Skip ke Konten

Eri Silk


Mengenal Sutera Eri

Sutera Eri merupakan serat alami yang berasal dari ulat Samia, yang banyak ditemukan di daratan Asia. Nama “Eri” berasal dari bahasa Assam, India, yaitu Era yang berarti “daun jarak”.

Di Indonesia, sutera Eri mulai dikembangkan pada 2016 dengan memanfaatkan daun singkong sebagai sumber pakan ulat. Pengembangan ini membawa peluang nilai tambah bagi petani singkong dan terus berlangsung secara organik serta swadaya.

Dari daun, ulat, hingga menjadi benang dan tekstil—Sutera Eri menghadirkan potensi serat lokal yang bernilai bagi masyarakat dan industri kreatif


Sejarah Awal Sutera Eri di Pasuruan

Dari pembinaan awal hingga berkembang menjadi bagian dari ekosistem serat dan industri kreatif Indonesia



2016

Early Development

Pembinaan awal Sutera Eri di Pasuruan oleh Bapak Arief Sugiarto bersama tim, dengan pemanfaatan daun singkong sebagai sumber pakan.



2017

First Harvest

Hasil panen pertama dikembangkan melalui proses trial and error bersama KaIND untuk menghasilkan produk selendang tenun.



2018

First Woven Textile

Serat Sutera Eri mulai menjadi kain tenun dan ditampilkan pada acara WCCE di Bali dengan fasilitasi BEKRAF.



2019

First Fabricated Yarn

Pengembangan benang Sutera Eri melalui proses trial and error oleh KaIND dengan komposisi 30% Sutera Eri dan 70% serat Tencel.



2020 - 2021

Innovation & Resilience

Di tengah pandemi, dikembangkan berbagai alat proses dan produk turunan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan.



2022

Wider Exposure

Sutera Eri diperkenalkan melalui pameran AVPN Conference di Bali dan KaIND meraih Juara 1 Pengusaha Muda BRILIAN dari Bank BRI.